CERPEN TERBARU TENTANG KELUARGA YANG BERJUDUL AYAH ATAU MAMA

Cerpen Terbaru | Cerpen terbaru yang akan saya bahas pada kali ini adalah cerpen yang menceritakan sebuah keluarga. cerpen memang bisa di buat dalam apapun temanya, termasuk dalam tema keluarga seperti yang akan saya share untuk kali ini. dan dari setiap tema juga ia bisa menentukan berbagai macam judul, sesuai dengan ide yang muncul dari sang penulis. sebut saja sebagai contoh tema keluarga, mungkin kita bisa menceritakan ayah, ibu, ayah dan ibu, kakak, adik, kakak dan adik, dan lain sebagainya. termasuk pembantu bisa masuk dalam judul keluarga.

sobat cerpen terbaru yang saya angkat kali ini adalah tentang sebuah keluarga, baik disini saya akan mencoba menceritakan sedikit inti dari cerpen ini. inti dari cerpen ini adalah menceritakan seorang gadis yang di tinggalkan oleh sang ibunda tercinta, dan kemudian ia di asuh oleh seorang wanita yang begitu sayang padanya. namun siapa sangka bahwa wanita yang mengangkatnya menjadi seorang anak ini adalah ayahnya. iya ayah Dara tokoh gadis dalam cerita ini memilih berganti jenis kelamin demi mengikuti kata hati.

Sobat memang susah seperti menerima sesuatu yang di luar akal sehat namun inilah kenyataan dari semua itu. mau bagaimanpun Dara adalah anak nya ayah, dan juga mamanya saat ini. karena wanita ini adalah ayah dan saat ini juga menjadi mama dara yang baru. baik sobat saya rasa cuplikan sedikit tadi sudah membuat anda cukup penasaran dengan cerpen terbaru di bawah ini. oke langsung saja sobat berikut adalah cepern terbaru tersebut selamat menikmati.

AYAH ATAU MAMA

TEMA: KELUARGA
PENGARANG: NINA AZRINA SARAGI

“Kenapa belum tidur, Dara?” Aku menoleh, ternyata Tante Manda sudah berdiri di belakangku.
“Dara nggak bisa tidur, Tante. Dara kangen Mama.”
Tante Manda menggandeng bahuku lembut. Bersama kami memandang langit malam dari balkon kamar.
“Tante ngerti, ini semua pasti sangat berat buat kamu. Jika kamu izinkan, Tante mau kok, jadi pengganti Bunda bagimu. Tante yakin, Bunda di alam sana juga nggak akan keberatan,” hiburnya sambil mengelus kepalaku dengan jemarinya yang lentik. Aku menatap teduh matanya. Kutemukan sinar ketulusan mengiringi binarnya.
“Makasih banyak ya, Tante. Dara bersyukur banget bisa bersama Tante sekarang. Dara akan senang sekali jika Dara bisa memanggil Tante dengan sebutan … Mama. Boleh nggak, Tante?” Tante Manda tersenyum dan menarikku ke dalam pelukannya. Tetesan bening menyeruak dari baik kelopak matanya yang bertabur eye-shadow.
“Tentu saja boleh, Anakku.,” sahutnya dengan suara bergetar menahan tangis.
“Tapi Tan, eh, Ma. Dara boleh nanya sesuatu nggak?”
“Boleh, dong. Kamu mau nanya apa?”
“Kenapa sih Mama baik banget mau ngurusin, Dara? Padahal kan, sebelum Bunda meninggal, Dara nggak pernah bertemu Mama sama sekali. Bunda juga nggak pernah cerita tentang Mama sama Dara. Terus, Dara juga heran. Kenapa Nenek langsung ngizinin Mama gitu aja ya, buat ngerawat Dara? Padahal selama ini, nenek itu orangnya over protective banget loh, Ma. Apalagi sama orang yang belum dikenal,” tanyaku mengungkapkan semua keherananku. Mama melepaskan pelukannya dan menatap jauh ke depan. Ada sedikit penyesalan menyelimuti hatiku tatkala melihat mendung di wajah Mama. Dia menghela napas panjang sebelum kata demi kata mengalir dari bibir merahnya.
“Mama sudah mengenal Bundamu dan Nenek jauh sebelum kamu lahir. Kami dulu sangat dekat. Bahkan Mama juga menemani Bundamu dan menyaksikan bagaimana detik-detik kelahiranmu. Mama juga yang menyarankan agar kamu diberi nama Dara. Karena Mama yakin, kamu pasti akan tumbuh menjadi seorang dara jelita yang baik hati. Ternyata Mama benar, kan?” Mama mencubit pipiku sambil tersenyum.
“Terus Mama sendiri? Apa Mama nggak mempunyai anak seperti Bunda?”
Senyum Mama seketika lenyap. Dia menatap mataku dalam. Aku melihat sorot kesedihan di sana. Kemudian ia berkata,
“Dulu Mama pernah memiliki seorang putri yang cantik seperti kamu. Tapi, Mama terpaksa berpisah dengannya karena keadaan yang memaksa begitu. Saat itu, dia masih berusia tiga bulan. Pasti sekarang dia sudah seumuran kamu.”
“Jadi, Mama nggak pernah ketemu dia sampai sekarang? Apa Mama nggak berusaha mencarinya?”
“Sudah malam, Sayang. Nggak baik kita berlama-lama di sini. Mama udah ngantuk. Mama tidur duluan, ya. Ingat, jangan terlalu lama di sini. Nanti kamu masuk angin. Lekas masuk, ya.” Mama kemudian bergegas pergi meninggalkanku sendiri yang memandangnya dengan penuh penyesalan.
***
“Selamat pagi, Dara sayang. Ternyata anak Mama udah bangun. Ayo sini, kita sarapan sama-sama.” Mama menyambutku dengan ceria.
“Iya, Ma,” sahutku mendekati Mama yang sudah menunggu di meja makan. Aku duduk di kursi tepat di hadapan Mama. Sebenarnya aku ingin meminta maaf pada Mama karena pertanyaanku tadi malam. Tapi, aku takut mood Mama berubah lagi. Aku terpaku diam di tempat dudukku, menunduk tanpa memiliki keberanian menatap wajah Mama maupun menyentuh sepiring nasi goreng di hadapanku.
“Kenapa nasi gorengnya nggak dimakan, Sayang?” Fuhh … Akhirnya kata-kata itu keluar juga. Itu tandanya Mama sudah tidak mempermasalahkan perkataanku tadi malam.
“Oh, iya, Ma. Ini Dara mau makan kok,” sahutku senang.
“Cepat dimakan ya, Sayang. Hari ini Mama mau ajak kamu jalan-jalan ke mana aja kamu mau. Sekalian nanti kita belanja keperluan kamu. Kamu mau, kan?”
“Mau banget, Ma,” sahutku cepat. Mama tersenyum tulus saat melihat binar bahagia di mataku. Aku selalu suka melihat senyum Mama. Sepertinya aku melihat senyumku sendiri berada di bibir Mama. Terkadang aku membayangkan, bagaimana sih wajah Mama jika tanpa make up. Sepertinya kami memiliki kemiripan. Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja.
Kuselesaikan suapan terakhirku dan meneguk teh manis hangat yang telah tersedia. Mmm, betapa beruntungnya aku memiliki seorang Mama angkat yang perhatiannya tak kalah dengan ibu kandungku sendiri.
“Eh, kok senyum-senyum sendiri. Mikirin apa, sih. Cerita, dong. Mikirin cowok, ya,” goda Mama sambil mencubit tanganku.
“Ih, Mama. Nggak kok. Dara cuman seneng aja, punya Mama yang baik dan cantik yang lagi duduk di hadapan Dara sekarang.”
“Ah, kamu bisa aja. Udah kelar sarapannya, kan? Ayo kita berangkat, Sayang.”
“Iya, Ma. Udah kok,” sahutku sambil membersihkan mulutku dengan tissu.
“Aduh, Mama lupa. Tolong ambilin map biru di laci meja rias Mama dong, Sayang. Soalnya nanti Mama sekalian mau antar berkas ke kantor. Biar Mama panasin mobil dulu, ya.”
“Oke, Ma,” sahutku segera.
Aku bergegas berlari ke kamar Mama di lantai atas. Kubuka laci meja rias di sisi kanan tempat tidur. Segera kucari map biru di tumpukan berkas yang ada di situ. Ah, ini dia. Tapi, tunggu dulu. Sebelum aku sempat menutup laci, mataku tertumbuk pada satu foto yang sedikit menyembul keluar dari balik tumpukan kertas. Rasa penasaranku pun mendorong tanganku untuk meraihnya. Aku terkesiap tatkala menyadari pria di dalam foto itu. Dia adalah seorang lelaki yang telah meninggalkanku dan Bunda saat aku masih bayi. Bunda pernah menunjukkan foto ayah saat aku mendesak beliau untuk memberitahu siapa ayahku. Kenapa Mama bisa menyimpan foto ayah? Jangan-jangan wanita yang saat ini kupanggil Mama adalah penyebab ayah meninggalkanku dan bunda.
“Kenapa lama sekali, Dara? Udah ketemu belum?” suara berat Mama mengagetkanku hingga foto di tanganku terjatuh. Mama terkejut setengah mati melihat foto itu. Dia menatap wajahku yang telah memerah dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa Mama tega merebut ayah dari kami? Sekarang aku tau alasan kenapa Mama mau mengangkat aku. Karena Mama merasa bersalah sama aku, kan? Oh, tidak. Anda tidak pantas lagi aku panggil Mama,” teriakku berapi-api.
“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan, Dara. Dengar penjelasan Mama dulu,”
“Ah, udahlah. Aku nggak mau melihat wajah anda lagi.” Aku segera melangkah ke arah pintu. Namun Mama berhasil menarik tanganku.
“Kamu boleh marah sama Mama. Terserah kalau kamu memutuskan untuk ninggalin Mama. Tapi tolong, Nak. Dengerin penjelasan Mama dulu.”
Melihat air mata Mama, aku pun mengurungkan niatku. Mama bergegas mengambil sesuatu dari lemari pakaian dan memperlihatkannya padaku. Ternyata secarik kertas yang berisikan surat keterangan dari dokter bedah plastik. Aku menatap Mama tak mengerti. Mengetahui keherananku, Mama menyebutkan satu kalimat yang menghantam keras jantungku.
“Aku ayahmu, Nak.” Aku memandang Mama tak percaya.
“Nggak mungkin. Bagaimana bisa?” tanyaku heran bercampur marah.
“Maafin ayah ya, Nak. Ayah sangat menyayangimu dan Bunda. Tapi Ayah juga nggak mampu menanggung siksa demi melawan kata hati Ayah sendiri. Ayah memutuskan untuk operasi kelamin dan mengganti semua identitas Ayah menjadi wanita. Bahkan Ayah berulang kali menjalani bedah plastik untuk memenuhi keinginan Ayah ini. Tetapi Bunda nggak bisa menerima keputusan Ayah dan mengusir Ayah dari rumah. Sehingga Ayah terpaksa ninggalin kalian. Maafin Ayah, Nak.” Sosok di hadapanku menangis tergugu hingga terduduk di lantai.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Meninggalkannya berarti sama saja menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan kasih sayang dari orangtua kandung. Namun tidak dapat kupungkiri, ini semua sangat berat bagiku. Ah, sudahlah. Apapun yang terjadi sekarang, yang pasti aku masih memiliki seseorang yang menyayangiku dengan tulus. Tak adil rasanya jika kubalas kasih sayangnya dengan pergi begitu saja. Perlahan aku membungkuk dan mengangkat wajahnya dengan jariku. Kuusap air matanya yang telah menghitam karena bercampur maskara. Kutatap dalam matanya. Hanya ada ketulusan dan luka yang terpancar di sana. Takkan kubiarkan luka itu semakin dalam dirasakannya.
“Bagaimana pun keadaan Ayah sekarang. Tak kan ada yang mampu mengubah kenyataan bahwa aku adalah anakmu dan selamanya akan menjadi anakmu.”
“Jadi, kamu nggak akan pergi, kan?” mata bulat itu menatapku menanti jawaban.
“Tapi, dengan satu syarat. Izinkan Dara untuk tetap memanggil Mama,” sahutku tersenyum.
Mama segera memelukku dengan bahagia. Kehangatan menjalar di antara kami berdua. Entah itu ayah atau pun mama, aku tak peduli. Yang terpenting adalah aku tak pernah benar-benar kehilangan kasih sayang itu.

Sekian ….!!

Gimana sobat menarik kan cerpen karya sahabat saya ini. oke sobat sekian dulu dari saya semoga cerpen di atas bisa menghibur sobat-sobatku semua sekian dari saya wassallam.