Pagi yang Menyia-nyiakan

Pagi yang Menyia-nyiakan

Pagi yang Hilang:

Di balik tirai fajar, matahari terbit,
Sinarnya menyelimuti bumi dengan cahaya.
Namun, ada pagi yang hilang,
Tersia-siakan oleh kemalasan.

Matahari berjuang,
Menembus awan kelam.
Namun, hatiku tertutup,
Terkungkung dalam mimpi yang hampa.

Burung-burung berkicau,
Menyambut hari yang baru.
Namun, telingaku tersumbat,
Terisolasi dalam kesunyian.

Angin berbisik,
Menyampaikan pesan alam.
Namun, jiwaku tuli,
Tenggelam dalam labirin pikiran.

Pagi yang hilang,
Terbuang sia-sia.
Hari yang berlalu tanpa arti,
Tanpa makna yang berarti.

Oh, pagi yang hilang,
Kapan kau akan kembali?
Kapan aku bisa merasakan,
Keindahanmu yang sejati?

Aku merindukanmu, pagi,
Dengan cahaya yang hangat,
Udara yang segar,
Dan kicauan burung yang merdu.

Aku merindukanmu, pagi,
Dengan kesempatan baru,
Harapan baru,
Dan mimpi-mimpi baru.

Aku merindukanmu, pagi,
Dengan semangat yang membara,
Tekad yang kuat,
Dan hati yang penuh cinta.

Oh, pagi yang hilang,
Kapan kau akan kembali?
Agar aku bisa menjalani hidup,
Dengan lebih bermakna dan lebih berarti.