Pagi yang Terabaikan

Pagi yang Terabaikan

Pagi yang Terabaikan

Matahari terbit dengan malu-malu,
Mencuri-curi pandang dari balik awan.
Langit jingga kemerahan,
Menyembunyikan wajahnya dengan kabut tipis.

Burung-burung masih terlelap,
Berada di balik daun-daun hijau.
Angin bertiup semilir,
Menyapa dengan lembut dedaunan.

Hamparan kebun bebungaan,
Masih tertutup embun pagi.
Kelopak bunga yang kuncup,
Menunggu matahari muncul menyapa.

Namun, pagi ini terasa berbeda.
Tak ada hiruk pikuk aktivitas manusia.
Jalanan masih lengang,
Hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang.

Pagi yang terabaikan,
Tak ada yang menghargai kehadirannya.
Semua orang masih terlarut dalam mimpi,
Lupa akan keindahan pagi yang sesungguhnya.

Pagi yang terabaikan,
Tak ada yang menyadari keindahannya.
Hanya alam yang tersadar,
Bahwa pagi adalah saat yang paling indah.

Matahari terus bersinar,
Menyinari bumi dengan hangatnya.
Langit mulai cerah,
Membiarkan mentari bersinar terang.

Burung-burung mulai berkicau,
Menyambut pagi dengan riang.
Angin bertiup semakin kencang,
Membawa aroma bunga yang menyegarkan.

Pagi yang terabaikan,
Akhirnya mulai disadari.
Orang-orang mulai keluar dari rumah,
Menikmati hangatnya sinar matahari.

Pagi yang terabaikan,
Tak lagi terabaikan.
Semua orang mulai menghargai kehadirannya,
Dan menyadari keindahannya yang sesungguhnya.