Pagi yang Terisolasi

Pagi yang Terisolasi

Keheningan Pagi yang Terisolasi

Saat fajar menyingsing, kota terbangun,
Namun aku tertinggal, dalam keheningan yang membungkam.
Tirai ditarik, namun mengaburkan pemandangan,
Memisahkan daku dari dunia luar yang ramai.

Secangkir kopi dingin, rasa pahit di lidah,
Menjadi pengingat akan kesunyian yang menahanku.
Langkah-langkah gema di koridor kosong,
Seakan mengolok-olok keterasinganku.

Langit di atas berwarna kelabu,
Mengancam hujan, menambah kesedihanku.
Pohon-pohon bertiup kencang, menari sendirian,
Sebagai bayangan kesepian yang bersemayam dalam diriku.

Burung-burung berkicau, tapi lagu mereka asing,
Mengingatkanku pada kehangatan yang hilang dari hatiku.
Suara-suara kota yang jauh, seperti bisikan yang menyedihkan,
Memperdalam kehampaan yang menguasaiku.

Aku duduk di sini, terisolasi dan sendirian,
Terjebak dalam penjara pikiranku sendiri.
Setiap jam berlalu, membawa lebih banyak keputusasaan,
Saat aku menunggu pagi yang terisolasi ini segera berakhir.

Tapi fajar akan datang, dan dengan itu harapan baru,
Kesempatan untuk melepaskan diri dari cangkang kesedihanku.
Sampai saat itu, aku akan bertahan dalam kesunyian ini,
Menunggu secercah cahaya yang akan memandu jalanku keluar dari malam.