Pagi yang Tersandera

Pagi yang Tersandera

Pagi yang Tersandera

Cahaya pagi merangkak lirih,
Menyelinap di balik celah tirai,
Mencoba menerobos kegelapan yang pekat,
Namun terperangkap dalam belenggu kelam.

Awan gelap berarak lebat,
Menghalangi sinar mentari berseri,
Hujan turun membasahi bumi,
Menyiram angan-angan yang belum terwujud.

Pagi yang dinantikan dengan sukacita,
Kini tersandera dalam kesedihan,
Harapan beralih menjadi kekecewaan,
Semangat yang menyala kini redup.

Seperti burung yang tak bisa terbang,
Terkurung dalam sangkar keputusasaan,
Pagi yang cerah seolah terampas,
Digantikan oleh kabut keraguan.

Tapi di balik awan yang kelam,
Masih ada secercah cahaya,
Menanti waktu untuk menerobos kegelapan,
Membawa kembali sukacita dan tawa.

Karena pagi yang tersandera ini,
Bukanlah akhir dari segalanya,
Akan datang waktu di mana matahari terbit,
Menghilangkan bayang-bayang yang menghadang.

Sabar menanti, adalah kuncinya,
Untuk membuka pintu gerbang kebebasan,
Agar pagi yang cerah kembali berseri,
Penuh dengan harapan dan kebahagiaan.